PT TOTAL QUALITY INDONESIA | THE BEST COPRPORATE MOTIVATOR
SINGAPORE JAKARTA SURABAYA

special partner

image







Kontroversi Kebenaran Poor Is Sin

Keterpurukan dan kesulitan ekonomi dalam jangka waktu yang cukup lama membuat banyak pihak ingin sesegera mungkin melepaskan diri dari kondisi ini. Bertolak dari hal ini banyak cara yang ditempuh untuk keluar dari kemiskinan termasuk diantaranya melalui berbagai metode motivasi untuk membangkitkan semangat agar setiap pribadi lepas dari kemiskinan. Salah satu motivasi yang cukup popular di kalangan Kekristenan saat ini adalah pandangan yang mengatakan bahwa miskin adalah dosa (Poor is sin). Banyak pihak merasa mendapatkan semangat baru untuk bangkit dari kemiskinan. Namun dibalik pandangan tersebut menimbulkan kontroversi dalam konteks teologi Kekristenan.

Rupanya istilah dan pandangan “Miskin adalah Dosa” atau Poor Is Sin menuai respon pro dan kontra terhadap pemahaman tersebut. Bahkan sejak Penerbitan GLORIA edisi 409 konsep Poor is sin oleh Johan Yan, tidak sedikit pembaca GLORIA memberikan apresiasi terhadap tulisan ini.

Ragam apresiasi ini, tentu mengundang pro dan kontra apakah konsep Poor Is Sin benar-benar memiliki makna yang Alkitabiah? Dan sejauh mana paham Poor is sin dapat dipertanggungjawabkan secara teologis?

MENYINGKAP KEBENARAN POOR IS SIN ?
Menyikapi kontroversi tersebut, GLORIA menghimpun pendapat dari berbagai toelog maupun hamba Tuhan menyingkap kontroversi kebenaran poor is sin dengan harapan penyajian ini tidak menimbulkan kesimpangsiuran pembaca GLORIA maupun jemaat Tuhan, ketika mencermati fenomena ini tidak menjadi bingung.

Johan Yan pencetus konsep 'Poor is Sin, Giving is Rich', dengan Paradoksi ini sejak Penerbitan GLORIA edisi 409 konsep Poor is sin telah menjadi buah bibir pro & kontra di kalangan awam, pebisnis maupun rohaniawan Gereja.

Bahkan terkait berkumpulnya 518 Direktur dan 4073 Manager untuk mendengarkan kebenaran Poor is Sin tanggal 2 maret 2008 lalu, membuktikan konsep ini lebih mudah diterima di dunia sekuler, benarkah demikian ?

Mengetahui hal tersebut, lantas sejauh mana pandangan Johan Yan paham Poor is sin ini dapat dipertanggungjawabkan secara teologis terutama dalam konteks teologi kekristenan saat ini?

“Menjabarkan sebuah kebenaran tidak semudah membalikan telapak tangan, khususnya kebenaran yang kontroversi. Dibutuhkan pemahaman tentang sejarah gereja, teologi, dan tradisi kitab suci yang mendalam. Memang mudah untuk berkata; sesat! Kafir! (Mat 5:22) atau 'menghakimi sebelum mengetahui' (Mat 7:1), tetapi baiklah biar kebenaran itu yang berbicara dan kita melihat dari buahnya (Mat 7:15-20),” tandas Johan Yan saat ditemui GLORIA.

“Saya heran mengapa sebagian umat berpandangan lebih mudah percaya bahwa uang itu jahat, Miskin itu baik, bahkan miskin itu Kemuliaan, dibandingkan dengan rancangan Tuhan hidup berkelimpahan atas mereka (bdk Yer 29:11, Yoh 10:10b, Ul 15:4)? Apakah kita semua ini anak raja melarat? Ironis sekali iman ini. Saya tidak percaya Tuhan menebus kita hanya untuk kemiskinan!” ujarnya.

Dalam GLORIA edisi 409, Johan Yan membagi kemiskinan berdasarkan social anthropology dalam 3 kelompok besar; kelompok pertama adalah Miskin karena Kerajaan Allah (2 Kor 8:9), kelompok kedua adalah Miskin karena Kelahiran/Cacat (Yoh 9:1, Kis 3:2), dan kelompok terakhir adalah Miskin karena Kemalasan (Amsal 10:4). Berikut pemaparan lengkap Johan Yan tentang Poor is sin:

KELOMPOK 1 : MISKIN KARENA KERAJAAN ALLAH
Kemiskinan dalam arti Teologis: Kristus yang kaya menjadi miskin untuk membuat kita kaya dalam ‘Kemiskinan’ Nya (2 Kor 8:9). Allah-Putra tidak hanya ‘menghampakan diri untuk menjadi manusia’ (Fil 2:7) Ia memilih bebas kehidupan manusia miskin (Luk 2:24), tetapi tidak ada alasan untuk menduga bahwa Kristus hidup dalam kemiskinan yang hina.

Sebagai Anak Sulung sangat mungkin Ia mendapat warisan dari Yusuf, dan nampaknya Ia dapat membayar bea Bait Allah (Mat 17:24). Beberapa murid dan teman-Nya nampaknya orang berada (Mrk 1:20, Yoh 12:3), bandingkan dengan catatan St. Hieronymus, penulis Vulgata; membuktikan Natanael Bartholomaios salah satu dari 12 rasul Tuhan adalah anak Tolmai dari keturunan keluarga Ptolemeus penguasa Mesir). mereka memiliki kas bersama (Yoh 12:6) yg dikelola Yudas isy kariot 'orang dari Kariot', mereka rela mengembara tanpa keluarga (Luk 9:58) kendati demikian mereka masih menyempatkan diri untuk memberi kepada orang miskin (Yoh 13:29). (Literature: M. Hengel, Property and Riches in the Early Chruch, E.T. 1974)
Ciri utama mereka yang terpanggil Miskin Karena Kerajaan Allah, adalah hidup dalam kaul kehidupan membiara yang ketat (bdk Kaul kemiskinan, kemurnian selibat, Ketaatan, Codex Iuris Canonici CIC /KHK Kan 654-658, 1191-1198) dan terasing untuk mengikuti Yesus yang menghampakan diri bagi sesama (bdk Mat 25:40, Fil 2:1-5) menjadi bebas untuk mewartakan Injil dan keadilan (bdk Mat 19:21) menaruh seluruh kepercayaan dan harapan kepada penyelenggaraan Ilahi (segi eskatologis; bdk Mat 19:29, Luk 12:33)
Gerakan miskin karena kerajaan Allah dimulai oleh Gereja pada abat 12 di daerah Prancis Selatan dan Italia Utara untuk memprotes kekayaan Gereja ditengah kemiskinan umat. Dimotori oleh St. Fransiskus Asisi (1181-1226) dan St. Dominikus, pendiri (1170-1221) “Ordo Pengemis yang Pertama” radikalisme atas kemiskinan St. Fransiskus Asisi berbunyi “dengan memberi seluruh hidup, kemiskinan adalah harta tak ternilai” (giving is rich) St. Ignatius dari Loyola (1491-1556) juga mengakui perlu peraturan “penghampaan diri” yang ketat dalam hidup membiara. Kaum biarawan memiliki spiritualitas berbahagia dalam kemiskinan karena Kerajaan Allah (Mat 5:3, Luka 6:20, Yak 2:5).

Sebagaimana selibat (Latin; Caelibatus -tidak berkeluarga) adalah panggilan khusus (bdk Mat 9:11-12, 1kor 7:26-25) maka miskin untuk kerajaan Allah juga adalah panggilan khusus kaum biarawan dan tidak diperuntukkan bagi awam secara umum. Dalam kitab suci tokoh Ayub adalah contoh terbaik bagaimana kemiskinan terjadi karena seijin Allah (Ayub 2:6) untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, namun tidak semua orang mendapat rahmat “diijinkan miskin”sebagaimana Ayub. Dalam era modern gerakan miskin untuk kerajaan Allah diberikan dalam teladan hidup Beata Teresa dari Calcuta India (Agnes Goxha Bojaxhiu – Yugoslavia 1910) Penerima Nobel Perdamaian 1979, yang meninggalkan kekayaan dan keduduk untuk membiara dan solider bagi kaum miskin. (Literature: A. Heuken SJ Chruch Encyclopedia. CLC 1992)

KELOMPOK 2: MISKIN KARENA KELAHIRAN
Sejak awal mula manusia diciptakan menurut Citra Allah (Kej 1:26), dan ‘ditenun’ sejak dari kandungan Ibunya (Mzm 139:13), Allah memiliki maksud dan rancangan damai sejahtera bahkan berkelimpahan (Yer 29:11, Yoh 10:10b, Ul 15:4) atas kehidupan kita, namun manusia tidak dapat memilih secara bebas akan terlahir sebagai apa dan dikeluarga yang bagimana.

Kondisi cacat (Yoh 9:1, Kis 3:2) sering kali membuat miskin (Ibrani: anawim) dan hidup dari belas kasihan orang (bdk Mat 9:27, Mat 20:30-31, Luk 18:38, dsb) Miskin karena kelahiran bukan karena dosa (Yoh 9:1-3).

Dikisahkan waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta (dan miskin) sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Kemiskinan karena kelahiran (cacat) bukanlah dosa dihadapan Tuhan

Tuhan Yesus meminta kita untuk solider dan mengasihi orang-orang miskin dan cacat (Luk 14:13) bahkan menuntut kita yang kaya untuk memberi terhadap mereka yang miskin Giving is Rich (Mat 19:21, Mrk 10:21,Luk 18:22,) ini merupakan bagian pelayanan Gereja (Gal 2:10). Kemiskinan dapat berkenan dihadapan Tuhan, asal disertai dengan ‘kekayaan dalam kemurahan’ Giving is Rich (2 Kor 6:10, 2 Kor 8:2) sebagaimana diteladankan oleh janda miskin (Mrk 12:42-43, Luk 21:2-3) bahkan Yesus sendiri memposisikan diri sebagai orang orang yang terhina-terlahir miskin (Mat 25:40) agar kita memahami makna memberi. Rasul paulus mengajarkan kita untuk menjadi kaya dalam kebajikan (1Tim 6:18, 2 Kor 9:6-11) Giving is Rich! Nasehat Injil bagi kita; Sesungguhnya dengan memberi kita kaya meskipun keadaan ekonomi kita miskin.

KELOMPOK 3: MISKIN KARENA KEMALASAN
Sebelum menjawab pertanyaan besar ‘apakah miskin itu dosa?’ dalam kelompok ketiga ini, marilah kita melihat arti Teologis dari Dosa menurut kitab suci. Alkitab menggunakan beberapa istilah untuk dosa.

Kata Ibrani yang paling umum adalah khatta’t (dalam berbagai bentuk dari akar kata yang sama),’awon, pesya’ra; dan kata Yunani adalah hamartia, hamartema, parabasis, paraptoma, poneria, anomia, dan adikia. Alkitab mengajarkan Dosa adalah ‘out of God’s Will’ adalah segala sesuatu yang diluar kehendak, Tujuan, Hukum dan rancangan Tuhan atas manusia (bdk 1 Yoh 3:4). Ciri utama dosa dalam segala seginya ialah tertuju kepada ‘God’s Will’ -kehendak Allah. Daud mengungkapkan hal itu dalam pengakuannya ‘terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa’ (Mzm 51:6) pohon yang tidak baik tidak mungkin menghasilkan buah yang baik, akar dosa selalu dan pasti membuahkan dosa (Mat 7:18, Luk 6:44). Asal usul dosa adalah kesombongan manusia sejak semula (Sir 10:15) dan kelemahan kodrati manusia (Maz 51, Ayub 25:4-6) Menurut Magisterium Gereja (bdk Mrk 7:21-23) ada 7 akar dosa pokok terdapat dalam sikap hati manusia yaitu; Sombong (Mother of Sin bdk. Kej 3:5), iri hati, Cabul, marah, tamak, kikir, dan Malas. Janji dan kehendak Allah adalah hidup berkelimpahan ( Yer 29:11, Yoh 10:10b, Ul 15:4) atas kita orang percaya (Bdk Mat 7:7-11) jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan mem


PT. TOTAL QUALITY INDONESIA
image

Copyright PT. TOTAL QUALITY INDONESIA 2009


Jakarta Office:
Menara Prima Suite 27i,
Jl. Lingkar Mega Kuningan Blok. 6.2, Jakarta 12950, Phone (021) 579 48480-2, Fax (021) 579 48456
Surabaya Office:
Graha Pena Building Lt. 9 Suite 909
Jl. A. Yani 88 Surabaya Telp. 031. 8274915/16 , Fax (031) 828 4671

Email : info@tqpartner.com, best view please use firefox browser